Jun 12, 2012

Menunggu Lampu Hijau


Kuhirup udara sore yang cerah ini. Kukumpulkan oksigen sebanyak mungkin yang mampu ditampung paru-paruku. Kutahan sejenak, lalu kuhembuskan perlahan sambil terus mengamati tiap sudut di taman ini. Setiap berkunjung ke kota ini, aku tak pernah lupa untuk mampir ke sini. Berdiri tepat di bawah jam gadang, atau duduk di salah satu sudut taman. Sebenarnya bukan mampir, tapi memang menyempatkan diri untuk datang.


Kali ini aku memilih duduk sambil kuamati satu-satu pengunjung taman di sekitar jam gadang ini. Jam besar dengan tinggi 26 meter ini memang menjadi ikon kota Bukittinggi yang selalu menarik banyak orang untuk berkunjung ke sini. Ada ibu dan seorang anak yang sedang berfoto bersama badut. Ada juga sepasang remaja yang saling mengadu pandang satu sama lain. Entah mereka sedang berbincang tentang apa. Yang aku tahu, mereka tampak mesra. Terlihat pula beberapa orang berjalan menuju ke tujuannya masing-masing. Entah ke mana. Di hari kerja seperti ini memang tak seramai hari libur. Namun menara jam yang terletak di pusat kota Bukittinggi, Sumatera Barat ini seperti tak peduli ramai tidaknya orang di sekelilingnya. Ia tetap kokoh, teguh, tegap, memberi petunjuk waktu.

Seperti itu pula kau. Selalu tak peduli dengan kejenuhanku. Selalu tak mau tahu, bahwa aku bosan dengan rindu. Entah apa yang ada di benakmu saat kau mempertahankan hubungan jarak jauh yang begitu membosankan ini.

“Pokoknya kita tetap harus bersama, Al. Sabarlah menunggu sampai hari bahagia itu tiba. Aku pasti akan datang melamarmu. Karena aku masih dan tetap mencintaimu, Alyanna!” Ujarmu meyakinkanku lewat telepon saat berkali-kali aku mencoba mengakhiri hubungan kita. Ya, aku memang sudah merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini. Aku bolak balik Padang – Makassar. Sementara kau? Kita sudah hampir setahun tak bertemu sejak kau menjalani bisnismu di Gorontalo.

Mungkin kau terlalu sibuk dengan usaha yang baru kau rintis, namun gejolak rinduku sudah cukup lama kau belenggu, Wigar!

Kutekan tombol bergambar gagang telepon berwarna merah. Aku tak sanggup mendengar lebih lama lagi suara Wigar. Aku benci mendengar kata-kata cinta dan sejuta janji dari Wigar. Karena aku sendiri tidak yakin dengan semua itu. Aku juga benci ketidakmampuanku berbicara jujur. Ya, aku masih belum mampu mengatakan pada Wigar jika sebenarnya ada Adrian yang selalu membuatku nyaman akhir-akhir ini. Teman kelasku semasa SMP yang kutemui saat reuni beberapa waktu lalu. Lelaki dengan pesona yang mampu menggetarkan sekujur tubuhku. Aku selalu merasa seperti ada balon udara yang menerbangkanku menikmati keindahan rasa saat bersama Adrian. Adrian selalu berhasil menciptakan degupan kencang di jantungku. Sesuatu yang sudah lama tak kutemui dengan Wigar.

Dilema. Seperti tangisan anak kecil di taman jam gadang yang minta dibelikan permen namun tak diberi oleh ibunya. Seperti dentang jam gadang dari keempat sisi yang berbeda. Seperti hendak membelah diri ini menjadi dua bagian. Satu bagian untuk mengikuti kehendak Wigar. Satu lagi untukku sendiri di zona yang membuatku nyaman.

Jam gadang menunjukkan pukul 17.30 ketika jingga perlahan mulai menghiasi langit Bukittinggi. Aku masih di sini, mencoba untuk mengumpulkan lagi kemampuanku untuk bisa jujur pada Wigar. Aku menengadahkan kepalaku. Mungkin langit sore punya jawabnya. Atau gumpalan awan akan membisikiku tipsnya. Mungkin sinar matahari yang sebentar lagi tenggelam akan memberi tahuku cara terbaik yang harus aku lakukan. Kututup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Kuharap ada ketenangan di sana. Namun ternyata tidak. Yang ada hanya gelap dan kegelisahan yang kian buncah.

Tiba-tiba smartphone-ku berdering lagi setelah. Ada nama Wigar lagi yang berkedip-kedip dari layar lebar itu. Kali ini aku harus jujur. Siap atau tidak, Wigar harus memberiku lampu hijau. Lampu hijau untukku bisa melaju ke masa depanku tanpa Wigar. Harus!

Flash Fiction ini diikutkan dalam #15HariNgeblogFF2

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar ke blog ini. Pastikan mengisi kolom nama dan url blog agar saya bisa berkunjung balik ke blog teman-teman semua :)

Oiya, diharapkan tidak mencantumkan link hidup di dalam kolom komentar ya. Jika terdapat link hidup dalam komentarnya, mohon maaf akan saya hapus. Harap maklum.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...