Jun 16, 2012

Jingga di Ujung Senja



Meeting tadi berjalan lancar pak. Laporannya sudah saya kirim ke email bapak.”
“Baiklah, Alyanna. Besok kita ketemu di Medan ya..”

Kutekan tombol bergambar gagang telepon warna merah. Setelah melapor kepada atasanku di kantor, aku merasa mampu menghela napas lebih lega, setidaknya di penghujung senja hingga sisa hari yang kulalui di kota ini, sebelum besok kulanjutkan perjalanan dinasku ke beberapa kota, sepekan ini.

Setiap orang butuh waktu untuk sendiri.

Aku pun. Di jembatan yang telah menjadi lambang kota Palembang ini, kini aku. Menikmati jingga di ujung senja yang baru pertama kali kutemui di kota ini. Sebuah meeting menggiringku ke kota ini. Pertemuan dengan rekan bisnis yang seharusnya dihadiri oleh atasanku tadi pagi. Lekat-lekat kuamati cincin yang melingkar di jari manisku. Cincin berlian yang kuterima dari lelaki yang berhasil mencipta jutaan cinta dariku untuknya. Cincin yang serupa kusematkan di jari manisnya saat itu, sebenarnya ia sendiri yang menyiapkan semuanya, menyiapkan kejutan demi kejutan untukku.

Matahari sebentar lagi hilang tertelan Sungai Musi. Senja ini kian menjingga di sepanjang jembatan Ampera. Sebentar lagi sensasi senja akan berganti dengan tautan gelap malam di semesta. Aku merasakan ada mata yang mengintaiku. Aku menoleh dan kuarahkan pandang ke sepanjang jembatan yang membelah sungai musi. Lampu-lampu yang siap menghiasi Ampera di malam hari mulai dinyalakan, semakin menambah jingga senja ini. Tiba-tiba kurasakan bahuku ditepuk halus oleh tangan lembut.

“Alyanna kan?” pemilik tangan lembut itu menegurku. Suara wanita.
“Hai, ma.. maaf aku lupa. Siapa ya?”
“Aku Widya. Kakaknya Wigar. Kamu pacarnya kan?”

Oh Tuhan! Selama pacaran lebih dari lima tahun dengan pria itu, aku sama sekali tidak pernah tahu kalau Wigar punya kakak perempuan bernama Widya. Kuamati wanita jangkung ini dari ujung rambut sampai ujung kaki, kaos yang ia kenakan agak kebesaran, jeans, dan sepatu bootnya memberi kesan maskulin pada dirinya. Hidung mancungnya memang serupa dengan hidung kepunyaan Wigar. Senyum ramahnya juga mirip. Ya, aku bisa percaya jika wanita itu memang saudara kandung Wigar. Sementara mataku menjelajahi sosok wanita di hadapanku ini, otakku pun turut bekerja, mencari tahu dari mana Widya mengenaliku sebagai pacar Wigar.

“Hmm.. Aku pernah liat fotomu di hp Wigar.” Widya memecah rasa penasaranku.
“Ow..” Aku speechless jadinya. Bibirku menyunggingkan senyum.
“Sedang apa di sini, Al? Bukannya kamu menetap di Jakarta, kan?”
“Aku kebetulan ada tugas dari kantor, Mbak. Tapi besok juga udah balik kok. Mbak Widya tinggal di sini ya?”
“Ya. Ikut suami.”

Di saat aku ingin memulai hari-hari tanpa nama Wigar di kepala dan hatiku, mengapa datang lagi orang yang mengingatkanku tentangnya? Orang yang tak terduga pula datangnya! Ah!

Jingga mengantarkan gundah di ujung senja. Sementara pengunjung jembatan ampera kian ramai dengan senda gurau masing-masing dengan sungai musi sebagai saksi mereka, lampu-lampu yang menghias sepanjang jembatan ampera kurasakan semakin menyorot gundahku di hadapan wanita ini.

“Kapan rencana kalian ke arah yang lebih serius?”

Hei! Kenapa jadi kayak wartawan infotainment yang menodong selebriti dengan pertanyaan menusuk seperti itu? Aku harus jawab apa? Apa aku harus bilang: No comment, seperti selebriti yang sedang tidak ingin dicecar pertanyaan seperti itu? Atau aku harus jujur dengan kerenggangan yang terjadi dan kerinduan yang tak mampu kompromi akan rentang jarak yang membentang?

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar ke blog ini. Pastikan mencantumkan nama dan url blog agar saya bisa berkunjung balik ke blog teman-teman semua :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...