Apr 10, 2012

Aku Cinta Kamu, Raina!


Trovommi Amor del tutto disarmato
et aperta la via per gli occhi al core,
che di lagrime son fatti uscio et varco.

Sebait soneta yang  terpampang di dinding Soriano Trattoria menyambut siapa saja yang masuk ke restoran ini. Kuedarkan pandanganku, kutemui seorang lelaki dengan senyum yang segar. Mungkin ia adalah pemilik restoran ini. Seorang pramusaji yang sedang mengantarkan lasagna pada wanita yang duduk di sudut sana. Di sudut yang lain, mataku tertumpu pada seseorang yang sedang melekatkan telepon genggam di telinganya. Ia sedang berbicara di telepon. Segera kuhampiri wanita yang mengenakan blouse warna biru gelap itu.

“Rae, kamu udah lama nunggu aku?”

“Enggak kok. Kru pemotretan udah siap semua?” Ia mengakhiri teleponnya, lalu tersenyum padaku. Kuletakkan tas berisi kamera di sofa tepat di depan tempat Raina duduk. Lalu kuhempaskan badanku di samping tas selempang itu duduk.

“Yang lain masih di jalan. Bagaimana kalau kita makan saja dulu? Aku lapar nih..” ucapku sambil mengelus perut yang sedari tadi tak kuat berkompromi dengan aroma bumbu khas Italia yang berbau tajam. Raina yang sudah menghabiskan seporsi lasagna bersedia menemaniku dengan memesan kopi espresso saja. Aku memilih pasta primavera dan Chianti—anggur merah vintage asal Tuscany.

Tak lama, pramusaji datang membawa pesanan kami. Dengan lahap kuhabiskan pastaku. Kuamati Raina yang tampak tak bernafsu menghabiskan fettucine-nya. Ia hanya memain-mainkan isi piring di hadapannya itu dengan garpu. Mataku menangkap bekas luka di pergelangan tangannya.

“Tanganmu kenapa, Rae?” tanganku menarik tangan Raina yang hendak ia sembunyikan di balik meja.

“Eng.. Enggak kenapa-kenapa, kok, Nang..” Aku mencoba mempertemukan mataku dengan mata indah Raina. Namun ia menunduk. Ada sebutir cairan bening menetes dari sudut matanya.

Hening.

Kuhirup sebanyak-banyaknya oksigen yang mampu ditampung oleh paru-paruku. Aroma minyak zaitun, kayu manis, pala, cengkih, basil, dan mozzarella, berebut tempat untuk masuk ke rongga hidungku. Raina masih membisu. Aku tak berani bertanya lebih jauh tentang bekas luka di dekat urat nadinya itu. Aku memang sama-sama bekerja dengan Raina di sebuah majalah fashion. Namun introvert-nya membuatku hanya mengenal Raina sebatas profesionalisme kerja semata. Pekerjaan inilah yang mempertemukanku hampir setiap hari dengannya. Selanjutnya ia lebih banyak diam dan lebih senang menjadi pendengar lelucon-leluconku. Namun aku diam-diam mengaguminya. Setiap kuabadikan gambarnya dengan hasil jepretanku, di sana ada desir hebat yang bergetar. Entah apa! Yang pasti, gelora itu selalu ingin kuulangi, lagi, dan lagi, setiap ku lihat ia selalu tampil cantik, menarik, dengan tatapan mata yang hangat dan nyaris sempurna! Seperti chianti yang kuteguk ini. Selalu sempurna memberi kehangatan untuk tubuhku.

Selama ini, aku hanya menikmati wajah ayu Raina dari balik lensa kameraku. Senyumnya yang misterius, sorot mata ibarat anak panah yang sulit untuk kutebak akan melesat ke mana. Tapi kali ini aku tak peduli pada keramaian trattoria ini. Aku beranjak dari sofaku, pindah ke sisi kanan Raina. Kugenggam tangannya. Tanganku yang satu lagi, kuarahkan ke dagunya agar wajahnya terangkat dan mata kami pun beradu. Selanjutnya, kudaratkan kecupan singkat di keningmu. Raina pasti merasa basah bibirku sisa chianti yang kuminum tadi.

“Aku mencintaimu, Rae..” 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar ke blog ini. Pastikan mencantumkan nama dan url blog agar saya bisa berkunjung balik ke blog teman-teman semua :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...