Nov 17, 2018

[Puisi] Kado Kecil Untuk Diriku Hari Ini

Hari ini, tiga puluh tiga tahun yang lalu. Ibu saya melahirkan anak dara pertamanya. Ibu saya adalah wanita paling bahagia karena semasa hidupnya, berdampingan dengan suami (Ayah saya) yang romantis. Mengungkapkan rasa lewat lagu dan puisi, kerap ia persembahkan untuk istrinya. Meninabobokan anak-anaknya, dengan nyanyian pengantar tidur. Pria hebat ini juga senang menuliskan isi hatinya di dalam diary. Andai saja blog sudah ada di masa itu, mungkin beliau pun aktif menulis di blog. Saya pernah membaca diary ayah saya, ia dengan sangat  deskriptif menceritakan  lewat tulisan, bagaimana beliau mencintai  istrinya. Jika bisa disebut bakat, mungkin beliau lah yang mengalirkan kegemaran menulis hingga saat ini dalam darah dan nadi saya.


Puluhan tahun yang lalu, menulis diary adalah cara paling rahasia dalam mengungkap isi hati. Buku bergembok itu menjadi saksi bisu untuk banyak kisah yang dituliskan di sana. Ia menjadi sahabat paling pendiam dan paling rapat menyimpan rahasia.

Beberapa tahun berselang, diary mulai ditinggalkan. Mulai berani menulis yang dibaca orang lain.

Puisi:
Ia adalah titik awal saya mulai berkisah dengan tulisan di blog. Ya, blog pertama saya didominasi oleh banyak puisi.

Lama vakum, karena pergeseran kebutuhan menulis. Ternyata ada kerinduan pada bait-bait puisi kehidupan yang lama tak tertuliskan. Hari ini, di hari yang berulang sudah sebanyak tiga puluh tiga kali dalam hidup saya, saya menulis puisi ini sebagai hadiah untuk diri sendiri.

Semoga setahun, dua tahun, sepuluh tahun hingga berpuluh tahun berikutnya, akan ada puisi-puisi lain yang lahir dan terposting di blog ini.

---

Hari ini, tiga puluh tiga tahun yang lalu.
Anak dara terlahir dalam tangis dengan suara melengking,
sementara keluarga bersuka cita.
Dalam rintik hujan di bulan November kala itu,
ia hadir sebagai anugerah yang dinanti datangnya,
ia ditimang dan dinyanyikan lagu kesayangan hingga di penjuru malam.
Lantunannya memecah sepi,
menjadi doa untuk hal terbaik baginya di masa depan.

Anak dara dalam dekapan hangat
dan buaian damai sepasang orang tua yang berbahagia.
Hingga ia tumbuh sebagai anak dara beranjak remaja.
Geliatnya menyulam mimpi.
Geloranya merajut asa.
Mengubah dunia.
Rapal-rapal doa yang terpintal untuk anak dara,
menjadi suluh semangatnya.

Kepergian.
Perpisahan.

Ketika tetes embun berhenti menitik.
Menjadi titik balik kehidupan anak dara.
Rasa dan logika porak poranda.
Ada torehan luka yang entah memulai dari mana menyembuhkannya.
Linangan air mata sederas hujan
dan kenangan yang kian menggenang.

Duhai angin,
mampukah engkau terbangkan lara ini?
Atau justru memberi tempias yang sisakan gurat duka.

Di sepanjang terpaan hujan badai
dan langit mendung yang menghitam kelam.
Anak dara tersungkur lemah.

Dalam tersungkur,
di sana kesempatan sujud
dan mengadu kepada pemilik semesta.

Di saat mata terkatup,
semakin dalam semakin tampak setitik cahaya.
Dalam tawadhu penuh khusyuk,
napas terhembus kian teratur.
Lega.
Di sana ada harapan untuk bangkit.
Anak dara menjadi dewasa.

Sepertinya Tuhan memang ingin memberitahu makna.
Sekuat apapun kemampuan hamba mempertahankan.
Yang pergi akan tetap pergi.
Sekuat apapun penolakan.
Yang datang akan tetap datang.
Anak dara kini tumbuh menjadi wanita dewasa.
Di setiap sisi hidupnya ada makna dan cerita.
Pun ada bait-bait puisi
yang kian panjang untuk dibacakan.


Makassar, 17 Nopember 2018

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar ke blog ini. Pastikan mengisi kolom nama dan url blog agar saya bisa berkunjung balik ke blog teman-teman semua :)

Oiya, diharapkan tidak mencantumkan link hidup di dalam kolom komentar ya. Jika terdapat link hidup dalam komentarnya, mohon maaf akan saya hapus. Harap maklum.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...