Jun 26, 2018

Rokok Harus Mahal

Idul Fitri baru saja kita rayakan bersama. Momen Idul Fitri menjadi momen saling silaturahmi, reuni dan bercengkerama dengan keluarga, kerabat serta sahabat. Tapi pernah gak teman-teman pas momen kumpul-kumpul dengan saudara atau keluarga, tiba-tiba ada asap rokok yang mengganggu? Apalagi ngepulnya deket anak-anak. Tentu bikin bete dan bikin suasana jadi gak nyaman.

Menghindar dari kepulan asap rokok kadang menjadi pilihan terakhir ketika orang yang memproduksinya tidak sadar kalau hal itu bikin udara yang dihirup orang sekitar jadi tidak sehat. Menghindar dari asap rokok memang bukanlah solusi efektif. Berbagai gambar-gambar peringatan “rokok membunuhmu” di bungkus rokok yang seram saja gak bikin kapok, apalagi hanya menghindar dari mereka. Sama sekali gak bikin mereka mengurangi produksi asap.


Rokok harus mahal! Saat ini harga rokok bisa dijangkau oleh semua kalangan. Termasuk anak-anak dan kalangan ekonomi lemah. Berbeda dengan di Australia misalnya. Harga rokok jika dirupiahkan sebesar 250-ribuan per bungkusnya. Coba dibandingkan dengan di Indonesia yang hanya dibanderol 25-ribuan. 


Dengan menaikkan harga rokok, konsumsi akan berkurang. Walaupun gak otomatis bisa memberhentikan secara total karena mereka yang sudah jadi pecandu rokok, susah untuk berhenti total secara langsung. Tapi jadi akan mengurang secara perlahan-lahan. Memangkas kemungkinan pecandu baru juga. 

Sejalan dengan ini, Bapak Prof Dr Hasbullah Thabrany, MPH - Ketua Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan FKM UI dalam kesempatan bincang-bincang di talkshow Ruang Publik Serial #RokokHarusMahal pada hari Rabu 20 Juni 2018 lalu, Beliau menjelaskan Prevalansi perokok yang makin meluas menjadi beban dalam anggaran kesehatan pada program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penyakit akibat rokok mendominasi pasien BPJS. Salah satu yang membuat prevalansi perokok adalah harganya yang murah. Menaikan harga rokok sehingga tak lagi terjangkau oleh kelompok miskin diyakini akan mengurangi prevalansi perokok di kelompok ini, yang pada akhirnya akan memangkas beban JKN. 


Dalam obrolan yang dipandu oleh Don Brady Purba dan bisa disimak di radio-radio jaringan KBR Nusantara, streaming KBR.id atau KBR apps serta live di FB Kantor Berita Radio-KBR ini, Prof. Hasbullah membenarkan bahwa memang mayoritas peserta JKN itu perokok dan yang lebih parah lagi, mayoritas peserta yang ekonominya kurang mampu, juga perokok. Dan mereka inilah yang klaim BPJSnya paling tinggi. Sehingga dana di JKN yang memang terbatas, terserap oleh mereka-mereka yang perilakunya tidak baik, yang sudah kecanduan rokok. Kalau tidak dilakukan kendali, maka ke depan, dana JKN akan semakin tidak memadai. Ya dengan kondisi sekarang, salah satu cara yang paling efektif yang terbukti di dunia, telah di uji, adalah menaikkan harga rokok. Kalau harga rokok itu naik, seperti hukum ekonomi, konsumsi akan turun sedikit, tapi tidak berhenti, karena mereka sudah nyandu. Jadi akan ngurangin sedikit, pelan-pelan insha Allah dalam waktu 20-30 tahun akan lebih terkontrol, jadi jangka panjang.

Dengan mengurangi konsumsi rokok diharapkan bisa mengalihkan belanja untuk pembelian kebutuhan pokok lain untuk pemenuhan perbaikan gizi keluarga serta biaya pendidikan. Dengan Kampanye #RokokHarusMahal ini, semoga terus mendorong pemerintah agar menaikan tarif bea cukai sehingga harga jual rokok di pasaran minimal Rp.50.000,- per bungkusnya.

Menurutnya, akses yang mudah untuk membeli, bisa dibeli eceran, dan harga rokok yang murah, membuat konsumsi rokok terus meningkat. Oleh karena itu, pihaknya terus mengampanyekan “#RokokHarus Mahal” dengan mendorong pemerintah menaikkan cukai setinggi-tingginya, sehingga harga rokok menjadi lebih mahal, minimal Rp 50.000 sebungkus agar tidak terjangkau lagi oleh anak-anak. 

Dalam Talkshow yang sama, hadir pula narasumber Yurdhina Meilissa selaku Planing and Policy Specialist Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI). Mbak Ica (sapaan akrabnya) mengatakan bahwa dengan menaikkan harga rokok, pendapatan Negara meningkat. kemudian uang yang dikumpulkan itu kita berikan kepada JKN supaya yang pertama adalah dia bisa mencover lebih banyak orang. Kita pakai uangnya untuk nambal JKN, sehingga kemudian semua bisa tercover, gitu. Itu juga adalah konsep yang dipakai oleh beberapa negara di dunia filipina yang dekat, dia sudah hampir 100%, karena semua masyarakat miskinnya dibayarin dengan uang rokok itu.

Teman-teman yang pengen menyimak obrolan tentang tema lain di serial #RokokHarusMahal, pantau terus kbr.id untuk info siaran talkshownya!

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar ke blog ini. Pastikan mengisi kolom nama dan url blog agar saya bisa berkunjung balik ke blog teman-teman semua :)

Oiya, diharapkan tidak mencantumkan link hidup di dalam kolom komentar ya. Jika terdapat link hidup dalam komentarnya, mohon maaf akan saya hapus. Harap maklum.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...